Gua pasti gila.
Ini jam 1 pagi, suhu badan gue hampir 39, seluruh badan gua sakit sejak 24 jam lalu, gua sudah minum obat 3 jam yang lalu, tapi sekarang gua minum lagi dengan dosis 2 kali lebih tinggi.
Tapi apa yang gua lakukan? Stay awake. Pinter banget ke. Bolak balik, ngerengek, doa, bolak balik lagi, makan, dll.
Akhirnya gua coba baca buku. 1 buku novel gua selesaikan dalam waktu 3 jam. Yes i’m stupid enough to be called an idiot. Nanti pagi gua harus berangkat jam 8.30
Setelah minum obat dan berusaha tidur, gua denger message tone dari hape gue. Seperti biasa, ada lonjakan dihati gue, berharap itu dia. Tapi ada satu sisi yang membantah, “ ya elah, ke, mana mungkin dia. Terus aja berharap. Cewe bego.”
Lalu gua buka phone locknya. Beneran dia loh. Dan lagi2, memberitahu hal yang sepele. Sesuatu yang seharusnya gua gak perlu tau.
Ini udah yang kesekian ratus kalinya, tentu kamu yang baca pasti udah eneg to the max. Sejujurnya, buat gua ini juga nyiksa. Well, siapa yang gak tau hal itu? Tapi balik lagi ini bukan hal yang mudah untuk dimengerti. Lagi2, hati gua menyuruh untuk deal with it.
Gua berpikir dia mungkin memaksa gue untuk mundur kembali sebagai teman, tapi menolak untuk membiarkan gua melepas ini. Tapi lagi2, (sepertinya bakal banyak kata lagi2) sampai sejauh mana ‘rasa’ gua ini bisa dianggap ‘benar’?
Gua semakin berpikir, benarkah ini jalan yang tepat? Mungkin keadaan dan kondisi yang kelihatannya seakan2 menahan gua tetap sayang dia. Mungkin sebenernya engga? Mungkin sebenernya Tuhan sudah lama menyuruh gua berhenti tapi gua yang gak ngerti??
Ada banyak waktu untuk bersikap baik sama dia. Bulan depan dia ulang tahun. Tapi keadaan ini bikin gua sulit bergerak.
Berkali2 gua pikir untuk kembali bertanya sama dia, tapi gua terus diliputi perasaan berasalah. Kalau gue terus2an tanya, gua takut dia mandang gue sebagai cewe assertive. Dan di rate ini, itu kedengeran gak cukup baik. I’m not an assertive girl, actually. Tapi situasi membuat gua gila.
Somehow gua kepengen nulis diblog ini lagi. Dan disaat yang sama, gua buka facebook. Belakangan dia eksis banget. U bisa dengan mudah menemukan nama dia di ‘TOP News’ home fb gue. Yang notabene, dulu2 meskipun sering online, dengan ajaibnya namanya gak pernah muncul di top news gue. Stupid FB, dia bahkan pengen ikut2an nyiksa gue rupanya. Untung bapak itu gak punya twitter account. Kalo punya juga, social networking yang aman buat gue ngoceh2 Cuma blogger. Shoot, please, God, don’t.
Gua semakin gak mengerti apa maksudnya, well, status updates memang engga selalu harus bisa dimengerti, sih. Liat aja updates gue belakangan. SAMPAH.
Tapi masalahnya itu. Gua terus bertanya2. Terkadang bisa sampe sesek napas, kenapa kok gua gak ngerti? Untuk siapa status itu? Dia bukan orang yang ‘iseng’ dan kekanak2an, dan bukan orang yang suka online sembarangan. Dia ngeselin. Itu jelas. Belakangan gue bahkan berani ngomong terus terang kalo dia itu ngeselin banget kalo lagi kumat.
Lalu waktu halaman terakhirnya gua tutup, gua nangis. Dibuku itu disebut dia pengen dicintai. Gua gak pernah sadar selama ini apa yang terjadi sama gua. Gua berpikir perasaan ini Cuma suka, tapi ternyata gua mungkin jatuh cinta sama dia. Well, gak ada yang cukup tau dan bisa membedakan keduanya, tapi setelah begitu banyak hal yang terjadi, sepertinya iya.
Masalahnya jadi makin besar karena ketertarikan itu berubah jadi cinta. Masalah berubah jadi bencana karena cinta itu engga dibales. See? Ternyata blogging memang punya banyak manfaat.
Tapi malem ini (ups subuh) pertama kali gua sadar, gua mau dia membalas perasaan gua. Selama ini sepertinya gua mencintai orang satu arah. kisinger, sweetheart, apen. Gua mencari diri gua sendiri dalam mereka. I did not love them. Meskipun gak keliatan, ternyata selama ini gua sangat egois.
Tapi gambarannya masih bener2 blur. Masih banyak kemungkinan gua salah.
Gua masih sangat mempertimbangkan, whether gua mau lanjut maju, diam ditempat, atau tutup mata rapat2.
Juga mempertanyakan, apakah semua ini membawa kebaikan buat gue? Yang pasti gua banyak ‘menua’ sejak bergaul sama dia. Well, gua juga baru tau gua ini mirip bunglon.
Lagi2, gua mengingatkan diri gua atas perasaan gue.
Softspoken, apapun keputusan u, sejak awal kita teman. Dan bila semua tidak seperti yang gua bayangkan, kita tetap teman. Sahabat. Bahkan keluarga.
Gua masih cukup sadar buat nulis posting sepanjang ini. gua pasti udah gila.
Apa sebaiknya gua terjaga sampe pagi? Nice option.
Well, selamat subuh. Selamat tinggal ujian, selamat datang ; libur dan istirahat cukup.
I keep walking, seizing the end of this journey. Hugs.


0 komentar:
Posting Komentar