Living Journal

a life time journey 세상에소리질러:사랑해

Tembok?

dia tiba2 update statusnya. "Tembok Berlin dan Tembok Besar Cina"
dia juga nambahin, "tembok yang sangat kokoh"

engga tau juga ya, kok rasanya posting ini berhubungan dengan kondisi kami? dia pernah bilang bokap gue itu gerbang terakhir dan bahwa yang mengerti "cewe" yang sedang dia pikirkan itu cuma bokap gue, bokap gue yang tau karakternya.

you know. bokap gue itu bukan tipe orang yang deket sama satu orang spesifik, apalagi anak muda. siapa lagi kalo bukan gue, anaknya yang paling dia ngerti?

I'm not being delusional, aren't i? gue engga kepedean kok, karena kalo secara logika, gak ada orang lain lagi.

dan sekarang status itu muncul begitu aja.

tapi gua selalu bingung sama pemikiran dia. kalo gua jadi dia, gua gak akan memikirkan omongan orang, gua engga akan menyerah hanya karena kondisi. gimana mungkin u menjual cinta u dengan hal lain??

cinta itu pertama2 harus sama2 tau, cinta itu bukan gimana akhirnya, itu bukan tentang apakah nanti dia bakal jadi pasangan hidup u selamanya. Dia pikir dia Tuhan, bisa menebak hal sejauh itu? Cinta itu bicara tentang PROSES. Kita jalankan, baru kita tahu apa rasanya. Baru teruji apakah bener cinta itu resistan terhadap kondisi berat dan sulit?

gua heran kenapa dia kebanyakan mikir. gua bersyukur sekarang gua udah bukan lagi sanguin melan, tapi sanguin phleg. itu membuat gua lebih flexibel dalam berpikir.

kalo gua jadi dia, gua akan ngikutin kata hati gue. *kalo emang bener dia sayang gue*

ternyata ini rasanya bersyukur bahwa kita masih naif. terkadang dengan sifat kanak2 kita, kita jadi lebih berani ngambil tindakan nekad, dan lebih kuat menghadapi tantangan, jadi bukannya melempem dari awal.

0 komentar:

Posting Komentar