kemaren gue baru kelar baca buku Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta. penulisnya Grace Suryani dan suaminya Steven Halim. (FYI, cewe itu yang nulis puisi Woman's Prayer. yang oon tuh yang ngutip. udah gak lengkap puisinya, judulnya juga jadi woman's pray. padahal penulisnya nulis 'My prayer'.)
dan gak bohong, buku itu BAGUS. Gaya bahasanya sih gak bener-bener bagus-jadi ada bagian yang bagus- (karena dia-mereka- pake bahasa gaul). Tapi alur kisah itu yang rada-rada amazing. gw belajar banyak dan berniat menulis review nya buat diri gua sendiri (kapan yah? :p) hehehehe
Banyak yang harus ditulis, karena buku tipis itu isinya padat berisi. gak ada bagian yang membuang waktu. dan terus terang aja, gaya bahasanya yang santai itu justru bikin mudah mengerti. ada satu bagian yang gua inget, karena kemaren ngalamin kejadian yang mirip2.
Ada bagian lucu yang dia sebut di buku itu sebagai "Ksatria Berkaos Singlet" di bab yang judulnya "Reality Isn't Dream At All". Dia gak suka sama kebiasaan suaminya pake kaos singlet dirumah. Itu saat-saat dimana dia menyadari kelemahan pasangannya. Juga saat-saat dia menemukan, pria yang dia cintai ternyata bukan pria impiannya yang gak punya cacat dari segi prinsip dan emosi. Akhirnya dia sadar bahwa suaminya manusia. manusia biasa. karena kebanyakan orang mengalami masalah dalam pernikahan karena menolak untuk mengerti bahwa pasangan mereka adalah manusia yang penuh kelemahan.
sebagai happy single, buat gua ini juga punya arti. Terkadang hal sepele seperti softspoken bukan cowo wangi, kulitnya agak gelap, badannya mungil dan kurus, juga gaya berpakaiannya yang sangat simpel dan gak neko-neko kadang bikin gua rada mengernyit dan mikir, "Serius, lu ke?"
tapi untungnya karena ini baru fase awal gua suka sama dia, segala kelemahan itu belum terlalu pengaruh. hahahaha
namun bukan gak mungkin setahun atau dua tahun lagi -what?!- pandangan2 kaya begitu bakal muncul, kan? I mean, we're human beings. Mata kita sering tertancap pada hal-hal lahiriah. Lahiriah disini bukan cuma fisik. tapi kebiasaan, pola hidup, prinsip, cara menyelesaikan masalah, bahkan cara menyusun barang diatas meja dan tetek bengek yang -sumpah- pasti banyak banget kalo digali, bisa jadi masalah besar kalo pengertian kita tentang menyayangi salah.
balik lagi, sekalipun gua belum memulai apapun sama softspoken, sekalipun gua belum punya hak apa-apa untuk meletakkan nama gua disebelah nama dia dalam percakapan, sebelum gua melangkahkan kaki ke tahap yang lebih berat -yap, bukan lebih membahagiakan tapi lebih berat- gua mau belajar mencintai dengan benar.
hal yang terindah dan terpenting yang gua dapet di dalam buku itu adalah, Marriage Takes Three. tapi mungkin buat kita-kita yang sedang menanti, kalimat itu jadi begini : Loving Takes Three. dia sebut dalam bagian ini, kita sebagai manusia gak bakal bisa mencintai seseorang secara menyeluruh bila kasih kita bukan berasal dari Tuhan, bukan dimulai dari Tuhan. Kita mencintai dia karena kita mencintai Tuhan, dan karena untuk Tuhan, dia berharga!
Nah, ini juga bisa dikembangkan jadi mencintai sesama, lho.
Ini juga disinggung di Lady in Waiting -nah yang satu ini rada males gua baca ==a- kita, Wise Singles sebaiknya memfokuskan kehidupan single kita pada Tuhan, keluarga, dan bukannya galau menanti pangeran berkuda nangkring -Ferrari :p- dateng. That means, punya banyak waktu untuk diri sendiri = punya banyak waktu untuk Tuhan = punya banyak waktu untuk mengasihi sesama= punya banyak waktu untuk keluarga = punya banyak waktu untuk mengembangkan diri !
Sayangnya, banyak single yang gak sadari ini. Lebih ngeri lagi, zaman sekarang kegalauan ini dimulai dari usia SMP-SMA yang notabene sangat rentan bila gak ada oknum yang bisa memberi pemahaman sama mereka. akhirnya mereka jadi salah fokus, dan berujung pada menyia-yiakan waktu yang berharga dengan pacaran gak jelas dan gak sehat.
Tuhan kita adalah Tuhan yang menjaga sampai sejauh ini, lho. Waktu baca tulisan ini gua juga mikir. Coba pikir deh. Kapan dia meninggalkan kita? Di saat-saat berat dalam hidup, ditengah kesakitan -waktu hidup terasa berputar balik meninggalkan kita, akhirnya kita tiba di saat ini, detik ini, dengan kedamaian dari Dia.
Dengan kesadaran itu seharusnya kita tau bahwa Dia juga Allah yang romantis yang mau capek-capek menuliskan Cerita Cinta buat kita. Yes, Us!
Bisa bayangkan hal yang lebih indah dari God-written Love Story? buat gue sih gak ada. *haha*
Dia pencipta yang menciptakan kita dengan begitu indah. So Pasti dia adalah penulis yang paling hebat juga.
Buku ini juga menegur gua dalam sikap gua menanti. terbukti gua belum punya kasih Tuhan, gua belum menggantungkan harapan gua sama Tuhan. Gua masih mencari dan berusaha dengan kekuatan sendiri, berpikir gua pintar dan hebat. Gua marah, merasa disakiti, padahal kemungkinan itu hanya pikiran gua yang seenaknya melebih-lebihkan. Gua sia-siakan waktu gua untuk meratap dan terpuruk.
Gua sudah paham, tapi untuk melakukannya butuh waktu dan usaha keras. Mulai sekarang, gua harus memperbaiki diri, agar hidup single gua bahagia. *Ike kamu bisa!*
mungkin bagi sebagian orang, pandangan gua yang seperti ini freak, fanatic. Tapi ini kesempatan yang baik untuk membuktikan apa yang gua percaya bukanlah fanatisme yang egois, tapi hal yang benar dan bermanfaat buat hidup gua. Gua percaya Tuhan akan berikan gua hikmat untuk bersikap benar di saat yang tepat, sehingga apa yang gua percaya dan pahami ini akan dipahami juga oleh orang lain. Amin!
Karena itu, ayo mulai sekarang kita bakar api kita perlahan-lahan, agar jadi semakin terang; dan terang itu akan menyingkapkan kebenaran, bahkan tanpa kata-kata.


0 komentar:
Posting Komentar