Akhirnya dia angkat bicara.
Dan gua sangat kaget betapa kuatnya gua berhadapan dengan dia tadi.
Tadi gw digangguin wendy (bukan metho) sampe gw nangis. Sialnya, gw ga bisa menahan air mata gw didepan orang banyak dan jadilah orang-orang mempertanyakan alasan gua menangis. tapi gua kemudian memutuskan untuk tetap tenang dan pelayanan.
Alasan gua nangis? tentu ada sangkut pautnya dengan Kak mesach. Tapi lebih kepada Wendy menjadikan Kak mesach alasan untuk mentertawakan dan mengerjai gua. Bukan salah Kak Mesach kok, tapi salah keadaannya.
Tapi lalu dia bilang, " Bicara sama aku ya, tanpa Fani dan Santi. Di kantor ci Dinas."
tapi ternyata di kantor belakang ada ko simon dan gw dibawa kebawah.
begitu buka pintu dia langsung bilang, " Kenapa nangis?" setelah gua jelaskan akhirnya dia tau kalau gua ga marah sama dia.
Lalu dia menyampaikan hal penting itu. damn, gua harus bisa menuliskan semuanya sebelum gua lupa.
" Ike udah sering kali bilang sama wendy kalau ike engga terluka karena keadaan ini. ike sudah jelaskan ike sudah memutuskan untuk mengikuti arus, tapi dia selalu berpikir ike ga bernyawa cuma gara-gara mikirin kak mesach."
"padahal ike udah bilang juga sama dia, kita awalnya teman, kalau seandainya keadaan ga mungkin, masa iya kita berhenti jadi temen? ya engga toh? makanya ike ga jauhin kak mesach. karena memang kita temen kok."
"ga ada bedanya ya?" katanya. "ya?" tanya gua.
"kak ike selama ini percaya sama 'pacarku' yang ada di Surabaya itu? menurut kak ike betul ga? perlu aku jelasin ga?"
dan dia menjelaskan semuanya. dia bilang dia ga punya pacar, orang di surabaya itu teman lama yang sudah dekat, dan gosip itu muncul karena ci ruth kenal dengan orang itu dam ci ruth mendesak dia untuk dekatin lagi. semua hal-hal yang dulu ga gua mengerti dijelasin sama dia.
dan alasan sesungguhnya dia jelaskan.
"Buatku, ini semua sudah seperti jalan buntu. Aku pernah terluka sangat dalam, dan luka itu masih sakit sampai sekarang. Aku terus terang masih belum bisa betul-betul melupakan kejadian itu dan aku tau itu membuat aku takut untuk bergerak lagi, terutama ketika aku tau keadaan diantara kita itu sulit. Aku gak ingin untuk terluka lebih dalam karena aku tau semua ini engga mudah. Dan buat ku tentu ketika ada seorang wanita yang dekat sama aku, aku ga bisa lagi main-main, aku ga bisa yang namanya 'jalani berdua, bicarakan berdua' dan buatku semua yang kupikirkan sudah harus sampai kepada keluarga dan semacamnya. aku ga bisa berpikir sederhana, karena usia ku juga. Semua harus jelas, kondisi memungkinkan. Terlebih karena pengalamanku, dan pengenalanku akan diriku, aku tau aku ga boleh berharap banyak."
ketika gua bilang gua sangat memahami itu, dia jawab dengan senyum bangga. "Aku tau kak ike pasti paham kok."
lanjutnya,
"aku sudah sering berpikir, bila memang perlu, bila memang Tuhan menutup jalanku, aku mungkin akan single sampai aku mati. selebihnya aku berencana untuk aku habiskan membahagiakan keponakan, keluarga dan diriku sendiri. Karena buatku jalan itu sudah hampir tidak ada. Tapi aku gak mau kesedihan itu ada sama kak ike. Kak ike masih muda, jalan kak ike masih panjang dan aku tau tidak akan sulit buat kak ike untuk mendapatkan pasangan nantinya. Aku pun akan berbesar hati bila seandainya suatu hari nanti aku bernyanyi dipernikahannya kak ike. Tapi disaat yang sama aku tau bila Tuhan mau, Tuhan bisa membalik segala keadaan."
lalu sebuah interval panjang terjadi saat itu.
"Sebetulnya ketika dulu aku tau dan ada beberapa orang menyatakan -atau tidak menyatakan- ke aku kalau mereka suka sama aku, Kak Ike adalah orang yang sempat membuatku bertanya sama Tuhan, 'Tuhan, apakah ini jalan ku...' dari segi pelayanan, karakter, dari Kak ike gak ada yang kurang."
Waktu gua angkat kepala perlahan, dia sedang memandang gua tanpa ragu. Gesturnya mengatakan 'sekarang udah ngerti, kan?'
"Karena itu kalau memang seandainya segala sesuatu gak mungkin dengan kak ike, bukan berarti aku terus langsung sama yang di Surabaya. Aku sama dia engga pernah ada komitmen apapun. Dia cuma temen baik dari dulu. Dan juga kegagalan ku dulu salah satunya adalah karena jarak jauh.
"Kita sama-sama doakan, bila memang Tuhan berkehendak, Tuhan akan buka jalan. segala sesuatu yang kita anggap tidak mungkin, pasti bisa dibukakan. Tapi bila tidak, kita harus taat sama pimpinan Tuhan dan tetap tegar. Kak ike harus tetap tegar melihat masa depan kak ike, dan aku juga akan menghadapi kehidupanku dengan tegar."
akhirnya pembicaraan ditutup dengan, "Kalau nanti ada tambahan, aku tambahkan setelah kak ike pulang kuala lumpur aja. Aku berharap hal ini jangan mengganggu liburan kak ike di Kuala Lumpur. hati-hati. Dan jangan menangis lagi. "
Gua memang mendapatkan jawabannya. Tapi ini mungkin sebetulnya bukan jawaban. Apa ini sebuah jawaban yang merujuk kepada pertanyaan lainnya?
Tell me if i'm wrong . loving him this much even when i don't know the reason why i love him so much, neither I know why I can't let him go.
Tuhan, apa yang sebetulnya ingin Tuhan ajarkan melalui kejadian ini? Ike hampir putus asa, ike tau ike punya Tuhan yang bisa dan harus ike percaya, tapi Tuhan, hati ike betul-betul sakit. Sakit.
Sakit. tapi entah kenapa gua merasa ini bukan hal yang buruk.
Selama beberapa waktu ini apapun yang gua lakukan tanpa dia, gak bisa gua nikmati. Gua ga pernah benar-benar merasa senang kalau dia ga ada di sekitar gua. tapi kalau ada dia, gua tau kebahagiaan yang gua rasakan hari itu hanya akan membawa rasa sesak lebih kuat, pertanyaan lebih banyak pada malam harinya ketika semua berakhir. Memikirkan keadaan dia, apa yang sedang dia lakukan, apa yang dipikirkan sudah jadi bagian dari reaksi gua.
Tau rasanya? Bahagia tapi takut. Sayang tapi sakit. Sakit tapi merasa ini semua tidak bisa dilepas begitu saja.
Dia bilang masa depan gua masih panjang. Tapi tau dari mana dia apakah gua akan bahagia nantinya bila orang itu bukan dia?
Gua sayang dia. gua rasa perasaan ini mungkin sudah melebihi sayang. cinta. apa salahnya?
kadang pikiran gua jahat dan bertanya, "Apa yang salah? Salahnya dimana? dia manusia kok!"
Gua pengen marah. Gua tau gua ditaruh di kondisi ini bukan karena satu kebetulan, tapi gua sepertinya sangat marah. Marah karena gua merasa gua buta. Gua mau taat, tapi ternyata taat itu beratnya setengah mati.
padahal gua sudah ga pernah berbuat apa-apa, tapi perasaan ini terus tumbuh. dan gua ga bisa nyuekin perasaan ini.
Tuhan kalau ini semua tidak akan berarti apa-apa tolong buang perasaan ini jauh-jauh. sudah jadi doa yang terus gua ulang-ulang. Tapi memang Tuhan belum mau memberikan jawabannya. Dan semua akan jadi berbeda bila ternyata ini adalah sebuah paket belajar besar, yang memiliki akhir tak terbayangkan.
Kak mesach, sebetulnya gimana caranya berhenti menangis? Sedang begitu berpisah di tangga bawah dan ike balikin badan, mata ike langsung panas dan langkah ike berat. Selama ngetik entri ini mata ike terus berubah buram karena air mata yang ga bisa berhenti.
Tapi gua inget WE pernah bilang -sebagai temen yang selalu membuat gua merasa segala sesuatunya tentang kak mesach mungkin-
"Buat gua, bila memang harus ditunggu, 10 tahun, atau sampe kakek nenek, kalau Tuhan mengizinkan lu menunggu selama itu, berarti itu memang pantas untuk ditunggu. Percaya sama hati lu ke, dan jalankan sesuai naluri lu. Kalau lu bilang ga mau menyesal, jangan sampai nyesel. Segala sesuatu akan indah pada waktunya." tepat saat gua membutuhkan orang yang berhenti berkata sama gua 'mau sampai kapan'.
Itu yang terus ada dalam benak gua. Gua tau bila terus dijalani, tampaknya akan seperti membuang waktu, membuang masa muda, dan pasti tidak sedikit orang yang menganggap ini sebuah kekonyolan yang akan berakhir pada sebuah penyesalan.
Tapi tau rasanya? ketika u merasa putus asa akan sebuah keadaan tapi di dada yang sesak itu ada sebuah keyakinan, meskipun masih redup, ada sebuah titik terang. Sepertinya jauh, meskipun marah dan bingung, yang gua tau gua hanya bisa berpegang pada pimpinan Tuhan. Hanya pada Tuhan. Hanya Tuhan.
Karena itu gua bilang sama Kak Mesach, "Ike akan tetap pada sikap ike yang sebelumnya. Bila ike rasa ingin ike lakukan, maka akan ike lakukan. Ike akan ikut kata hati ike."
"Bagus." jawabnya dengan mata yang sedikit berkilau dengan pertanyaan.
dan besok gua harus berangkat ke airport jam 4 pagi. mungkin lebih baik gua ga tidur aja sekalian.


0 komentar:
Posting Komentar