Kami persiapkan retreat pemuda sudah sejak 6 bulan yang lalu.
Sampai kepada harinya, selama masa persiapan terus terang banyak hal yang gua sesali. Karena terhimpit tugas kuliah dan pelayanan lainnya dalam gereja, banyak rencana yang gua susun gak bisa terlaksana.
Terlebih penting, gua menyadari penuh kelemahan berorganisasi kali ini.
untuk menunjuk dari diri sendiri, pastinya
negativity gua jelas belum hilang. Sejak pertama gua sudah meragukan ketua.
For I know he is an indecisive person, gua cenderung ragu sama pimpinan dia. Bukan mau menyalahkan, tapi sampai acara selesai pun gua masi berpikiran yang sama.
Sorry, I don't mean bad. Tapi- yah- itu, gua betul-betul diajar untuk tunduk taat. TOLERANSI. Ya ampun, kalau bukan karena Kasih Karunia dan Tuhan yang murah hati, acara ini bakal betul-betul berantakan.
Phew, panitianya 80% anak-anak yang baru pertama kali jadi panitia retreat. Mereka masih rentan secara emosi dan kurang inisiatif karena kurang pengalaman.
Well how should you react? You can clearly imagine how things went, right?
Mulai dari target peserta yang terus menurun karena kami punya pembina yang agak 'optimis' tapi kadang tindakan dan keputusannya mengenai retreat ini agak kurang konsisten dan kurang tepat, sampai kepada persiapan acara yang masih terus berlangsung sampai 2 jam sebelum kami berangkat,
leaks disana-sini, perubahan jadwal acara yang gila-gilaan, pembagian kamar yang kacau balau karena tempat retreat penuh sampai saat kami sampat, briefing pemimpin saat teduh dan sharing dilakukan pada makan malam hari pertama. kalau gua perfeksionis yang belum diubahkan, jelas gua akan jambak-jambak rambut gua dan nangis guling2 ditanah.
What else could happen?
Hal yang sempat sangat gua khawatirkan adalah masalah hati pelayanan.
Tapi Tuhan membuktikan dia Tuhan yang tidak pernah gagal. Dengan keadaan yang sangat tidak memungkinkan itu, acara retreat kami yang bila di dunia sekuler mungkin sudah jadi
piece of shit karena persiapannya yang agak-agak errr, ternyata berhasil dengan keberhasilan yang -sangat- manis.
Siapa yang sangka semua orang akan sangat berbesar hati satu sama lain, sehingga rasanya tidak ada yang salah dengan semua kelalaian itu? Dan gua sangat ditegur dengan keberhasilan retreat ini.
Seakan Tuhan bilang, Siapa elo berani-beraninya menilai segala sesuatunya buruk? Aku Tuhan yang mendengar seruan anak-anaknya. Hebat banget lo meragukan kuasa Gue?
Sumpah, malu banget. Karena balok dimata gua menghalangi gua untuk menyadari secara nyata bahwa gua juga punya kelemahan besar, bukan cuma mereka. Bukan berarti karena gua gua hardworking selama persiapan berarti gua lebih hebat dari yang lain.
bersyukur karena gua boleh menyadari itu sebelum retreat benar-benar berakhir.
Ketika ditunjuk jadi pemimpin sate, (dari pemuda dipilih Aris, gue dan Melina) seperti biasa itu jadi ritual yang cukup menegangkan buat gue. Karena secara manusia gua belum patut dianggap teladan. Hanya itu yang gua takutkan. Tapi ketika gua mulai merasa gentar, gua ingat kebenaran itu.
Bahwa gua cuma alat, segala persiapan, semua panitia, semua aksesoris dan kendaraan yang dipake dalam retreat ini cuma alat, dan sampai hari pertama itu gua sadar gua cuma mengkhawatirkan alat.
Saat itu juga gua berdoa, agar jangan mulut gua yang berkata-kata tapi biarlah Roh kudus yang menyampaikan segala sesuatunya.
Super banget, malam itu gua menegur Cenni, dengan alur yang Tuhan sediakan. Pagi harinya gua menegur seorang anggota yang terus-terusan bertengkar dengan keluarganya. pagi yang satunya lagi, gua menegur seorang anak cewe yang meninggalkan sahabatnya karena sedikit masalah mengenai iman kepercayaan.
know what? ada perasaan yang lucu ketika malam dan pagi itu gua memimpin renungan. gua mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut gua dengan jelas, tapi gua merasa itu tidak berasal dari diri gua. Setelah selesai renungan, gua butuh beberapa saat untuk
get my self back, berpikir keras dalam hati, dari mana asal hikmat itu dan gua menyadari Roh Kudus berkata-kata melalui gua. Engga ada yang tau alur pembicaraan itu bisa mengarah kepada masalah-masalah mereka, dan ga ada yang tau orang se
timid gue bisa menegur orang dengan cara seperti itu.
Ketika menyadari itu, gua tau Tuhan mau bekerja dalam hidup mereka melalui renungan yang Tuhan siapkan melalui koko pembina. Dan Tuhan mau gua juga menyampaikan kebenaran itu. Dia menjawab doa 'pakailah-aku-Tuhan' gue.
Firman yang dibawakan oleh pembicaranya juga sangat spesifik menegur beberapa individu, seperti seakan semua sudah di
script. bahkan poin-poin saat teduh dan firman bisa identik, padahal disusun oleh 2 orang yang berbeda.
gua berasa ditodong pistol. Sperti Tuhan tanya, Apa lagi yang kurang? Bilang aja dan jangan pernah ragukan Gua lagi.
Satu hal yang gua syukuri, gua ga melewatkan berkat itu. pengalaman sebelumnya jadi panitia gua lewat. gua tidak berhasil menyerapnya. tapi Tuhan baik, dia memberikan kesempatan kepada gua. Dan retreat ini telah jadi sebuah sejarah buat hidup gua. Satu pengalaman lagi yang menegur gua untuk terus bersandar kepada pimpinan Tuhan. Sepanjang hidup kita, kita cuma punya pilihan itu. berserah penuh kepada Tuhan. Senantiasa menggantungkan harapan padaNya dan terus mencari kebenarannya, dan pengharapan kepada Tuhan tidak mengecewakan.
Ing-ing (
love her faith and i want to learn more from her) sharing tentang ilustrasi yang dibagiin sama kakak kelas dikampusnya.
Firman Tuhan bekerja dalam kehidupan orang itu ibarat makan 7 bakpao. Terkadang ada orang yang bisa kenyang di bakpao ke 7, ke 5 atau ke 3. tapi ada juga orang yang baru bisa kenyang setelah bakpao ke 10, 11 dsb. Jadi jangan sampai merasa sia-sia dalam mengadakan acara, karena perubahan itu sedang terjadi perlahan dalam hidup anak-anak Tuhan. Di tangan Tuhan tidak pernah ada usaha yang sia-sia.
Gua harap sampai kapanpun gua tetap bisa jadi pengantar bakpao-bakpao itu... Ya, itu kerinduan gua.
Keep learning and obey life's proccess,
As a never ending journey of hope and faith.
Thank You God for You are good.
0 komentar:
Posting Komentar