Living Journal

a life time journey 세상에소리질러:사랑해

Even It's Not Necessary

Another good, breathtaking song :))
The song is originally sad-themed, but I smiled when I heard it for the first time.

FT Island - Even It's Not Necessary


You don't have to but if by chance,
Would you remember me ?
I wasn't talented but I made you laugh for a little while.

Although you wake up hurt from poor love
If there were no good memories,
You would remember it atleast just once.

Would you remember me if you meet someone like me ?
Would you remember me if you hear the song that we used to listen to ?
Would you remember me if you meet someone with same name as me ?
You don't have to but please remember me atleast just once...

How are you lately ?
I ask about you.
I wonder if you hear me...
Even if you forgot already, could you remember me again ?


If you were happy for just one moment,
If I can be the reason for that...
You will remember me atleast just once ?

Would you remember me if you meet someone like me ?
Would you remember me if you hear the song that we used to listen to ?
Would you remember me if you meet someone with same name as me ?
You don't have to but please remember me atleast just once.

I am different...

I remember you without someone like you !
I remember you whatever you do somewhere !
I remember you without someone with same name as you !
I remember you all the while I breath...

I am...


Berapa bulan yang lalu, gw inget kalau gua udah 1 tahun suka sama dia. Gw beli cincin, murah, dengan tulisan "Softspoken" di bagian lingkar luarnya. Cincin itu gw jadiin pengganti bandul dragonfly gue. Tapi rasanya, mungkin tanpa sadar cincin itu jadi lambang bahwa perasaan itu terus ada dihati gua seperti cincin itu terus ada di dada gw. Lagu itu persis, persis, seperti apa yang gua rasakan setiap hari. Even when the situation had me hurt, confused and sunken, I still worried about his days and nights. Those days when I told my self to look closely and think twice, I still cared too much about his thoughts, his light towards me. I knew since last time, that this confusing situation will still be going on, as I have to learn day to day about myself. That's why it has given me courage to walk this far.


Beberapa waktu yang lalu gua sering kali dongkol dan bertanya 'Kenapa?!' sama hampir segala hal tentang dia. Itu bikin gw sadar, gua bertanya 'kenapa?!' sama semua hal yang gak gua setujui. Sampai berapa waktu lalu, gua selalu ngerasa 'kok dia tau sih gue bakal mundur? dan dia membuat gw jatuh kembali ke lubang yang sama' dan kemudian gw menyalahkan 'keadaan', tapi sekarang gw sadar, masalahnya bukan di dia, tapi gue. Gue yang memilih untuk merasa seperti itu dan dipermainkan oleh pikiran itu. Keadaannya gak pernah berubah, dia gak pernah nyuekin atau tiba-tiba perhatian, tapi emang relasi antar manusia begitu. naik turun. Gue yang berharap terlalu banyak, gua yang mikir gw berharga buat dia, padahal dia gak pernah bilang begitu. Tadinya gua pikir, gak ada yang salah sama gue, yang salah keadaannya. Tapi seharusnya, gua belajar menempatkan diri dalam masalah, bukannya defense dan gak ngaku gua salah..

pada intinya, pola pikir gua terlalu sempit, naif dan egois. Berusaha memonopoli dia. padahal gua tau status dan peran dia di gereja.

Gua sering menyiksa diri gua dengan pikiran-pikiran yang gua buat-buat sendiri, ditambah omongan orang tentang dia dan 'pacar'nya, padahal gua yang bilang asal dia bahagia, gak ada masalah. Gua terus-terusan menjilat ludah sendiri. Bayangkan betapa memalukannya sikap gue. Gua sama sekali gak 'biasa' dan gak dewasa. Dengan kondisi emosi se-rentan ini dan se egois ini, gua berani bilang gua udah siap dampingin dia?? Nah, I ain't ready for this. Lah, tapi gua selalu bilang "Kalau gak dicoba gak akan tau."  Makanya gua terus coba, memahami jalan pikiran dia, dan orang-orang disekitar gua, sehingga akhirnya gua bisa melihat banyak dents yang harus ditambal. Itu toh proses yang dialami semua orang, melihat kelemahan, memperbaiki kekurangan. Kondisi 'gantung' ini ya ujian dari Tuhan buat gua yang puas diri dan malas berubah.

Dulu gua suka meringkuk di kasur sebelum gua tidur, berharap dengan cara begitu dia bisa keluar dari kepala dan dada gue, kadang-kadang mata gua basah karena sedih atau kangen. Tapi gua baca tweet dari TheLoveStories, bilangnya "Kenapa kita harus bersedih, meratap dan menyesal bila kita tahu Tuhan berdiri bersama kita?"

Lagi-lagi, gua belum bergantung pada sumber kekuatan gua. Untuk kesekian kalinya, gua lupa. 

Rasanya sekarang, jauh lebih ringan dari sebelumnya. Perlahan-lahan, bener-bener perlahan-lahan gua mulai paham cara manage diri. 

Gua udah bilang sama dia, gua mundur. -baca: lagi. 

Dia bilang, "pantang menyerah" -baca: lagi.

Bedanya, gua bilang masalahnya sepertinya bukan lagi perasaan dia, pandangan orang, situasi dan perkataan orang, tapi gua. Gua semakin gak bisa percaya dia, gua semakin gak tau mana yang benar dan salah, sesaat gua pikir saat ini gua orang yang paling memahami dia, disaat lain gua sadar gw bahkan gak mengenal dia sama sekali. Gua udah gak tau lagi apa yang gua cari, apa yang gua perlukan. seakan-akan sedih tentang dia udah jadi makanan sehari-hari, hal lazim, ibarat tau obat itu pahit, suka sama dia itu menyedihkan. 

Nah, kalo udah hilang arah gitu mau gimana? gua gak tau jalan pulang, gua udah males nyari jalan pulang. Yaudah gua duduk aja disitu. I'm sitting down there but he can't see me.

Jadinya, membayangkan ya tinggal membayangkan, berharap tinggal berharap. 
Softspoken tetap gak terpecahkan. Rumus persamaan yang gak punya jawaban pasti, gak punya jarak pasti.









0 komentar:

Posting Komentar