Living Journal

a life time journey 세상에소리질러:사랑해

Drenched tears

Gua berdoa supaya post ini bisa ditulis dengan baik.

Menemukan
Merasakan
Mengatakan
Menunggu
Menanti
Mengharapkan
Menanyakan
Memperkirakan
Memastikan

dalam 2 tahun ini, fase itu yang terjadi terhadap gua.

akhirnya gua tanya sama bokap. Dan seperti biasa, kekhawatiran gua memang sebetulnya tidak beralasan.

papi: "Kenapa"
ike: " Kak Mesach." *tear drops*

Begitu bokap mulai bicara, air mata gw ga bisa dihentikan.

papi: "Papi ga pernah mau memutuskan apapun dalam hidup ade, karena papi gak berhak. Tuhan yang berhak menentukan jalan hidup ade. Masalah pendidikan, karier, bahkan masalah jodoh, itu semua ada diluar kendali papi."

Satu poin penting yang Tuhan perjelas melalui pembicaraan gw sama bokap hari ini adalah:
Dewasa rohani dulu, bentuk emosi dan pribadi sehingga jadi decent person sebelum memutuskan menjalin hubungan.

beberapa waktu ini, perenungan gw, perkataan orang-orang disekitar gw, film yang gua tonton bahkan, mendorong gw untuk segera menangani masalah ini. memperjelas semuanya.

Awalnya gua takut, ga tau harus bagaimana menyampaikan hal ini sama bokap nyokap, tapi tadi setelah ibadah ci Meli ajak gw ngobrol dan dia jadi orang terakhir yang meyakinkan gua untuk ngomong sama bokap. Dia lalu mendoakan gw.

tak perlu tunggu lama, ternyata 'momen' yg gw tunggu datang 5 menit setelah gw didoakan.


"Keinginan papi adalah ade dapat memilih segala sesuatunya sesuai kehendak Tuhan, bukan berdasarkan emosi, bukan karena kasihan pada diri sendiri maupun orang lain."

"dan yang papi lihat, saat ini untuk mengambil sebuah keputusan masih terlalu cepat. Papi mau ade membuka wawasan ade. Bukan hanya soal jodoh, karir atau studi, tapi soal Tuhan ingin Ade menjadi apa, Tuhan ingin ade lakukan apa dalam hidup ade. itu dulu."

"Selesaikan studi, mulai masuk dunia bekerja, pertanyakan pada diri sendiri, uji diri sendiri apakah sudah mampu, apakah sudah bisa mengambil keputusan yang dewasa. sambil berdoa, berharap terus kepada Tuhan, lalu tanyakan apakah Tuhan menginginkan ade menikah. Bila Tuhan izinkan, pasti Tuhan akan berikan pada Ade orang yang paling tepat, dan tanda itu akan terasa."

"Papi tidak berharap saat ini ade terfokus pada sebuah perasaan, sebuah emosi, yang pada akhirnya keputusan yang didasari dorongan sesaat menghancurkan kehidupan ade 20-30 tahun kedepan. Karena masalah pernikahan adalah hal yang SANGAT serius dan tidak bisa diputusan sebentar."

"Yang benar adalah saat ini ade bentuk diri ade, gumulkan, uji diri dan hubungan ade, lihat seiring berjalannya waktu bagaimana Tuhan pimpin jalan ade."

"Itu yang paling penting. Bagaimana menghadapi perasaan sesuatu direbut dari tangan kita, dan belajar mengerti kehendak Tuhan dan menjalani proses."

dia berharap gw bisa menunggu 4-5 tahun kedepan. gw ga bisa pungkiri perkataan bokap itu benar, mutlak benar.

pembicaraan ini berarti,

lepaskan dia, lihat prioritas.

1. Bentuk diri
Segi emosi, pendidikan, pekerjaan. Saat ini hampir bisa dibilang gw bukan orang.  dan sebetulnya gw menyadari itu. belum dewasa, berlagak dewasa. Naif, emosional, iri hati, malas. Diri sendiri masih belum becus, berharap bisa memahami pasangan? rasanya engga deh, ke. belum.

betul. belum.

2. Tanyakan pada Tuhan
hanya itu satu-satunya cara. hanya itu satu-satunya jawaban paling benar. Tuhan mau apa dalam hidup gw, itu lebih penting dari apapun

3. Jangan sampai menyesal
Pertama kali ini gw melihat bokap gw mengeluarkan sisi romantisnya. Dia menceritakan tentang cinta pertama dia, dimana karena saat itu dia belum dewasa dia mengecewakan orang yang dia kasihi, bahkan setelah puluhan tahun berlalu, dia tetap menyalahkan dirinya atas kehidupan gadis itu yang akhirnya harus hidup dalam kesedihan; salah satu penyebabnya adalah Papi. Papi yang selalu berkata jangan menyesali apapun, menyesali kisah cinta pertamanya, berkata:
'kalau seandainya bisa kembali'
'kalau seandainya dia bertemu papi yang sedewasa sekarang'
'seandainya dia masih hidup, papi akan minta maaf sama dia karena selama 5 tahun itu dia tidak mendapat apapun yang berharga dari papi'
'ketika tau dia pergi, papi tau sebagian dari hidup papi pergi bersama dia'
'Saat-saat itu sangat indah'

semua miris itu dia rasakan sekarang karena 40 tahun lalu dia tidak bijaksana memutuskan. ketika dia bilang 'tapi -yah- itulah hidup. semua sudah berlalu dan kadang kita tidak mengerti keadilan Tuhan' gw tau dia tidak ingin gw merasakan hal yang sama. dia engga mau 40 tahun lagi, gw menyesali usia 20 tahun gw yang gua lewati dengan mental tergesa-gesa.

"Sedih, sakit, memang. Tapi itu harus, itu penting. Dan ade harus kuat juga bukan memaksakan diri. natural saja. tidak ada yang perlu di pangkas, hanya berhenti bergerak saja, dan berusaha kurangi intensitas. itu aja. "

lucunya, bentuk percakapan ini sudah terjadi antara gua dan Kak mesach, sehari sebelum berangkat ke KL. dalam hal ini pun, hati kecil gw bersorak.

saat pembicaraan tadi, gua sampai gak tau lagi airmata gw itu keluar karena apa.

Sedih, karena keinginan gw untuk segera bersama dia ga bisa. dan perasaan seperti itu juga tidak benar. Seperti anak kecil yang permennya direbut, gw menangis tersedu-sedu, tapi ketika anak itu besar dia tau bila terlalu banyak makan permen, giginya bisa bolong dan engga cantik lagi.

Senang, karena segala hal yang gw dengar dari bokap sebelumnya sudah dipersiapkan melalui firman Tuhan dan renungan yang gw baca, pembicaraan gw dengan sahabat-sahabat, danjuga dari buku yang gw baca.

Bangga, karena Tuhan begitu hebat dan keren karena -sungguhan- DIA sudah membekali gw dengan pengetahuan sebelum gw dengar ini dari bokap -jadi seperti sebuah peneguhan-

Bahagia, karena diusia segini gua mendapat kebenaran ini. ini berarti gua punya sangat banyak waktu untuk mempelajarinya dan mengembangkan diri.

tapi masalahnya sekarang, penyampaian ke kak mesach?
nah, kan. sedih lagi.

aduh saking banyaknya air mata yang keluar, kepala gw sampe sakit seakan-akan bilang 'cukup!! udah kering nih, jangan nangis lagi dong!"

suatu saat, gua tau gua akan SANGAT bersyukur melebihi rasa syukur gw saat ini. Bersyukur karena malam ini pernah gw lalui, bersama Tuhan.

"Hug dulu biar tenang," papi peluk gw erat "guai-guai, hao hai zi."

Ike guai, ike pinter. *woof*
:)) :))

morning, :*


0 komentar:

Posting Komentar