Living Journal

a life time journey 세상에소리질러:사랑해

Membuka Genggaman Tangan

Thanks for the positivity induction, cin. Bener nih, gua juga harus MEMILIH untuk berubah. Like everyone have to do.


I've come to this desicion. This time, I don't know how long and how strong I could endure it, but I'll never know unless I try.


Lagi-lagi, bukan cuma ngomong 'kalo gak dicoba gak akan tau', tapi gw bener2 ngerasa perkataan itu ada kuasanya. Emang kalo gak dicoba, kita gak akan pernah tau.

Khotbah hari minggu kemarin mengingatkan gw tentang bersabar. Lagi-lagi gw disadarkan bahwa kesabaran dan toleransi gw terhadap sesuatu hal itu masih cupu banget. Tapi yah, tau dan melakukan itu hal yang sangat berbeda.

Belakangan, gw sangat menarik diri dari Softspoken. Semua cerita terhenti begitu saja. Menghindari tatapan mata, jawab candaan seadanya, meskipun terkadang gw ingin bersikap lebih ramah, ada sisi dari diri gw yang menolak. Soalnya dia terus-terusan menunjukkan kedekatan sama cewe lain didepan gw, dan bahkan nyinggung hal-hal lama yang gak enak didenger. Dia engga tau efeknya besar buat gue. Otomatis gw menjauh lah. Malesin. Mungkin ini efek yang timbul dari perasaan-yang-muncul itu, deh. Kayanya badan gw juga udah mulai sinkron sama pikiran gw.

Bahkan gw gak bisa bersikap normal. Sisi buruk gw selalu terlihat. Baik sadar atau gak sadar, kelemahan gw terus-terusan terekspos. Dulu pernah begini sih, tapi bedanya, kadarnya beda. Kali ini kelihatan jelas bagian buruk dari karakter gw. Gak sabar, kadang suka impulsif, moody, cepet cape

Emang sih mungkin emang udah waktunya kelemahan ini ketahuan, tapi semua ini terjadi sesuai izin Tuhan, toh? Seiring hati gw ragu, segala kondisi lari ke arah yang jelek. Nothing has goin' right ever since. Apalagi sekarang karena gw menjauh, dia juga ngikut ngehindar.

Udah sejak hari senin kemarin gw berpikir, udah saatnya hitung langkah mundur. Sejak kejadian gw pikir dia udah punya pacar, tekad ini sudah gw ambil. Gw mau make up mind, pengen ajarin diri sendiri bahwa kehilangan dia bukanlah sebuah hal besar.

Lalu renungan yang gw baca kemarin bilang begini, " Melepas sesuatu yang kita anggap sangat berharga sering kali memberi dampak yang -secara mengejutkan- baik."

Mungkin gua sudah worn out, mungkin kata 'bertahan', 'bersabar', 'percaya' sudah gak cocok lagi sama kondisi ini. rasa-rasanya ini udah jadi 'memaksakan kehendak' atau 'sadar yang gak sadar'. Well, ada kemungkinan gw salah. Bisa aja gw kemakan situasi -lagi, tapi ketimbang takut mengambil keputusan, gw lebih pengen percaya bahwa Tuhan tau yang terbaik buat gw.

Dia engga akan mengizinkan perasaan ragu ini timbul begitu aja. Pasti ada alasannya. Mungkin nanti, mungkin besok gw bisa ngerti, kita gak pernah tau. Kalau gw engga coba keluar dari 'zona' ini, gw gak akan pernah tau.

Rasanya sudah cukup berpikir bahwa dia 'yang terbaik'. Gua cuma perlu menerima kenyataan bahwa gw salah mengerti.

Dan seperti yang gw bilang sebelumnya, nothing to regret. Dengan segala kegigihan yang sudah gw lakukan, gw bersyukur karena gw sudah berusaha sebaik yang gua bisa.

Plus, Gua juga harus belajar untuk mundur jadi temen. Kata orang sih suka sama seseorang itu ibarat point of no return, tapi -yah- mungkin gw orang pertama yang sukses #pedegakberalasan. Again, we wouldn't know unless we try. Apalagi sampe bokap gw aja bilang, "Kegagalan bukan selalu sesuatu yang membawa dampak buruk" tadi, sebelum kami doa keluarga. Bener banget. Gak perlu malu lama-lama karena gagal. Itu sesuatu yang terjadi dalam hidup semua orang normal.

Perlahan-lahan. Jalan perlahan-lahan. Yah, dari pada engga bergerak sama sekali, It DO sound better.  :)

AH!!!
Hidup selalu penuh kejutan, ada kemungkinan hal lain yang membuat gw 'ragu' bakal muncul lagi. Saat itu, gw cuma berharap gw gak menjilat ludah sendiri. :- |





Berharap liburan segera tiba. Hidup gw perlu rejuvenation. *Wait, at this age?* #sebodoah  :x

0 komentar:

Posting Komentar