gini deh. anggaplah u suka sama seseorang. u punya beberapa kondisi, toh?
misalnya ketika u menghadapi sesuatu, normalnya ketika itu terjadi u bakal mikirin kondisi diri u sendiri, kan?? tapi kenapa kok gue malah terus2an mikirin dia?
terkadang gua bisa mendengar suara gua menyebut nama dia mendengung di kepala selama beberapa menit.
atau gua bisa tau persis suara tawanya, padahal dia gak ada disitu, dan gua gak akan bisa mendengar suaranya saat itu.
atau ketika ditengah kerumunan, tubuh gua bersih keras mencari dia, dan waktu gua menemukan sosok dia dari jauh, dia sedang disana melihat gua -brief, but i saw it.
God, what is this? tau sih, ini yang seperti gua bilang sebelumnya, ujian ketaatan dan kesabaran. tapi gua gak bisa membuang kebenaran bahwa gua bener2 gak ngerti apa yang Tuhan mau lakukan dalam hubungan gua sama bapak itu.
siklusnya begini.
ada masa dia bener2 terasa deket, bahkan kami terasa dekat tanpa harus berbicara apa2. tapi pasti stage berikutnya adalah dia membuat benteng. sambil sesekali nembus cuma buat iseng atau sebagainya. makin lama makin banyak hal yang bikin gua gak ngerti maunya dia apa.
dia pernah sms pagi2 tanpa sebab. waktu ditanya, jawabnya "iseng" "godain doang" dan manggil gua "dek"
meskipun gua sangat berharap arti "dek" itu adalah panggilan sayang, tapi gua gak bisa menutup pikiran buruk bahwa dia ngomong begitu untuk menyuruh gua mundur dan bilang " gua cuma nganggep u adek. keluarga. u sih rakus dan kepedean. salah sendiri..."
tapi mungkin atau engga sih?!
terus ada hal lain lagi. somehow dia tau gua sedang sangat bergumul sama tugas2 gue. sampai satu kali dia mendoakan gua ditengah waktu latihan.
an-i, don't you find it sweet? dia tau gua suka sama dia. seharusnya dia tau sikap seperti itu bisa bikin gua ngelunjak. itu doa sih, ngerti, bukan gini cara melihat situasi ini, tapi dari sisi manusia, dia gak akan melakukan itu bila bukan dia memang peduli sama gue, kan? iya kan? atau gua cuma delusional? apa dia cuma kebanyakan waktu dan kebanyakan tenaga?
he concerned about my situation. beberapa kali sebelumnya gua menangkap dia bersikap, "lebih baik gua gak bilang hal ini biar u jangan pusing. jangan nambahin pusing u lagi..."
tapi kata engvi, bisa aja ada orang yang begitu. dia bisa aja-malah sepertinya kemungkinannya cukup besar- nganggep gua adik yang asik dikerjain. ya kan?
hm. oke. itu dimensi lain yang cukup masuk akal.
tapi, gua kan udah berkali2 bilang sama dia kalau dia memang ga ada maksud apa2 lebih baik ngomong daripada ngehindar pelan2.
gua cuma berharap dia cukup bisa menghormati gua, dengan cara bicara secara langsung sama gua.
sampai saat ini sih, berdasarkan hasil korekan gua, dia engga pernah berniat untuk ngejauhin gua katanya.
tapi ya itu. kaya beli kucing dalam karung. gua gak bener2 tau kapan dia sungguh2 melakukan sesuatu terhadap gua.
sejauh yang gua inget, satu salaman hari ini, doa beberapa hari lalu dan genggaman tangannya waktu nyalamin gua ultah itu terasa -well- sungguh2 tulus.
when something comes up, we usually can feel it, right? perasaan itu engga muncul nyata seperti rasa marah, malu atau seneng. perasaan itu datangnya didalam tingkat yang lebih dalam dari itu, nurani.
who was that girl, cin? I want to know her too...


0 komentar:
Posting Komentar